Jumat, 19 Desember 2008

MENGOBARKAN KEMBALI PERANG KEMERDEKAAN.

PENDAHULUAN
”Kemerdekan”, kata yang mungkin sudah familiar di telinga kita, enam puluh satu tahun yang lalu Indonesia telah menyatakan kemerdekaan diri sebagai negara merdeka. Tapi pertanyaan sinis kerap disampaikan: ”Benarkah kita sudah merdeka?” Dengarkan lagu iklan layanan Komisi Pemberatasan Korupsi atau KPK yang dinyanyikan para pengamen dan orang berdasi di mobil yang tampak gerah mendengarnya. ”Benarkah kita sudah merdeka, sementara lorupsi masih merajalela?”. Pada ulang tahun ke-61 Proklamasi Kemerdekaan, bentangan kehidupan nyata insan dan bangsa Indonesia masih berupa mosaik yang tersusun oleh titik-titik kecil kemerdekaan dan bercak-bercak ketidakmerdekaan. Rencana penting kita terwakili oleh pertanyaan: bagaimana kita mengusahakan pelebaran titik-titik kemerdekaan dan penciutan bercak-bercak ketidakmerdekaan, lewat upaya-upya mengobarkan kembali perang kemerdekaan. Jadi, kemerdekaan macam apa yang sebenarnya kita cari?.
Pada dasarnya kemerdekaan sebagai proses tumbuh kembang keberadaan manusia dan bangsa, kita menegaskan bahwa kita merdeka untuk:
1) Menjadi semakin pandai dan arif,
2) Bekerja makin efektif dan efisien.
3) Mengalami hidup yang makin bahagia.
4) Menjadi insan dan bangsa yang makin beradab.
Di usia yang sudah melebihi setengah abad ini, sudahkah keempat hal ini terjawab?Disana-sini keempat hal ini terjawab sebagai titik-titik kecil ditengah hamparan luas kehidupan nyata insan dan bangsa Indonesia, tetapi pada hamparan luas kehidupan itu tertebar pula bercak-bercak besar kebodohan dan ketidakarifan, kekurangmampuan bekerja secara efektif dan efisien, kesengsaraan dan penderitaan, dan kekurangberadaban.
Penulis selanjutnya akan mencoba untuk sedikit menjelaskan apa sebenarnya mengobarkan kembali perang kemerdekaan itu.

PEMBAHASAN
Memang sudah enam puluh satu tahun sejak Indonesia menyatakan kemerdekaannya, memang bukan usia yang muda lagi. Tapi di usianya kini yang telah melebihi setengah abad ini masih banyak rakyat Indonesia yang masih saja bertanya-tanya “Apakah kita sudah merdeka?”.
Sang proklamator kita Soekarno juga jauh hari sudah menyatakan kemerdekaan hanya jembatan emas menuju keadilan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Di jembatan ini, ternyata memang tidak mudah seperti membalikan telpak tangan bagi bangsa Indonesia untuk terus berjalan menggapai cita-cita yang telah diharapkan.
Bung karno sang proklamator selalu menyerukan kita untuk mempunyai sikap “Berdikari”: berdiri di kaki sendiri daripada mengemis pada modal asing dan didikte karenanya. Tri Sakti pun memang harus terjadi, karena telah menjadikan landasan terbang bagi bangsa Indonesia menuju rakyat Indonesia yang adil dan makmur: berdaulat dibidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan.
Masa gegap gempita yang dipenuhi dengan mobilitas rakyat seperti pawai, rapat akbar disertai orasi-orasi ayng menggelegar ternyat6a harsu ditutupi oleh peristiwa G30S 1965. Selama orde baru berkuasa, Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi tertuduh tunggal pelaku G30S yang membunuh tujuh jenderal dengan sangat kejam. Akibatnya, ribuan orang simpatisan yang tidak tahu-menahu tentang peristiwa G30S dibunuh dan sebagian besar diasingkan ke pulau pembuangan.
Jenderal Soeharto pun muncul sebagai tokoh baru yang kemudian berkuasa selama 32 tahun. Ternyata kemana arah dan bagaimana Indonesia akan berjalan , ternyata berbeda 180derajat dengan Bung Karno. Segala orasi-orasi seperti dalang dalam pewayangan tidak ada lagi, tak ada debat politik, dan protes-protes dari siapapun. Seiring dengan berjalannya waktu, modal asing pun mulai mengalir deras untuk menciptakan gedung-gedung megah dan jalan-jalan yang mulus.
Dibalik semua itu utang terus saja menumpuk dan membuat sebuah tirani yang sangat ditakuti rakyatnya. Ternyata Pancasila menjadi sebuah palu godam kekuasaan untuk membungkam nada-nada kritik rakyat. Penjara pun tak pernah sepi.
Tak ada demokrasi dibawah kekuasaan Soeharto, begitulah kata mahasiswa dan kaum intelektual yang gelisah. Golongan putih pun mulai bermunculan di masa itu. Sampai akhirnya kediktatorannya harus ditumbangan oleh peristiwa Tri Sakti. Maka mulai terasa ada angin segar reformasi dan memberi peluang kepada sipil untuk menduduki kekuasaan. Namun, masih saja muncul pertanyaan apakah kita sudah merdeka karena pascareformasi terus saja menghantui. Korupsi terus merajalela, kemiskinan dimana-mana,pendidikan dan kesehatan makin mahal, bencana alam terus saja dating, utang semakin menumpuk, krisis moral tetap saja terjadi dimana-mana. Kekayaan alam kita memang sangat banyak tetapi tetap saja kita harus seperti ayam yang mati di lumbung padi? Tentu saja semua ini bukan kemerdekaan yang kita harapkan?
Enam puluh satu tahun sudah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, tetapi tetap saja kemiskinan dan kesengsaraan terus merajalela. Demokrasi tentu adalah modal awal kemerdekaan sejati yang seharusnya menjadi jembatan emas yang akan membawa kita ,menuju pintu gerbang kemerdekaan yang sesungguhnya kita dambakan.
Tumbuhnya partai-partai yang seharusnya dapat membawa aspirasi rakyat-rakyat kecil. Tugas pemerintahlah yang seharusnya menjamin dan memperteguh mekanisme demokrasi seadil-adilnya bagi seluruh rakyat Indonesia sepenuhnya. Rakyat juga telah menunjukan kekuatannya pada perjuangan demokrasi pada hari-hari di bulan Mei 1998 itu dan tak lupa 27 Juli 1996.
Dibawah payung demokrasi inilah kita bisa mulai untuk menyingkirkan ego golongan demi menuntasan persoalan yang membuat kita selama ini susah untuk mencapai cita-cita yang selama ini kita dambakan, karena itu marilah kita bersama bergandengan tangan untuk mempertegas makna kerdekaan yang sesungguhnya bagi kita dan bila perlu supaya kita mengobarkan kembali semangat perang kemerdekaan. Sehingga kita tidak lagi menjadi bangsa kuli di negaranya sebagaimana yang mimpi-mimpi para pejuang-pejuang kita dahulu.

PENUTUP
Setelah anda membaca pembahasan penulis mengenai “Mengobarkan Kembali Perang Kemerdekaan”. Sangat jelas bahwa semangat kemerdekaan yang dahulu dibawa oleh para pejuang kita haruis selalu kita wariskan juga, sehingga kita dapat membangun bangsa kita yang seutuhnya. Agar mulai dari sekarang tidak ada lagi desah tangis air mata bangsa ini yang selalu mempertanyakan
Penulis selalu saja berharap kita juga berharap supaya dengan tulisan ini agar bangsa ini selalu saja mempunyai semangat kemerdekaan yang takkan punah demi kelangsungan bangsa ini. Agar mulai dari sekarang tidak ada lagi desah tangis air mata bangsa ini yang selalu mempertanyakan “Apakah Bangsa ini Sudah merdeka?”.
Semoga tulisan ini dapat berguna bagi anda semua agar kita dapat membawa bangsa ini ke jalan yang lebih baik.








Lampiran

Kamis, 18 Desember 2008

Tak kenal maka tak sayang

Sedikit banyak dunia kecilku dihabiskan disebuah kota yang berada tepat di tengah pulau kalimantan....
kurang lebih 15 tahun banyak ilmu serta pelajan yang kudapat dari tempat kelahiranku tersebut...
budaya saling menghargai serta menghormati anatar pemeluk agama suku dan warna kulit...

Sekarang setelah menginjak dewasa banyak waktu yang akan kujalani di ibukota (Bandung), mulai dari sma disebuah sekolah negeri yang ternama hingga sekarang kuliah di sebuah universitas yang populer di kota bandung...

Trim's

Michael...

permata yang hilang

sedikit cerita bagaiman seorang colegian asal center borneo yang sedang mengembang sayapnya di ibukota...
sebenarnya banyak hal yang bisa kita lihat dari kayanya budaya serta warisan nenek moyang masih belum tergali di bumi kaliamantan... sedikit tambahna wawasan yang ingin dipelajari di ibukota buat memngembang "permata" kalimantan yang belum banyak diketahui khalayak ramai....!!!